kerikil VS karang

Setelah melalui beberapa masalah belakangan ini, saya berpikir, apa sih maksud Tuhan melibatkan saya dalam setiap masalah ini? Saya secara pribadi merasa sudah hampir menyerah, karena merasa sudah berada di ujung batas kemampuan saya menanggung beban masalah. Sejauh ini saya masih mencoba bertahan dan tidak mengutuk apa yang terjadi sebagai “cobaan”. Ini hanya kerikil kecil yang tajam, bukan karang, pikir saya. Tapi sampai seberapa jauh lagi saya harus berjalan sambil melompat-lompat kecil menghindari tersandung tajamnya kerikil-kerikil itu. Jika itu sebuah karang, apakah itu tidak lebih baik, karena tak mungkin mata saya tidak melihat karang bukan? Apalagi sampai tersandung! Tapi toh saya tidak tau mengapa Tuhan lebih memilih memberikan saya banyak sekali kerikil tajam dibandingkan 1 buah karang saja… 😦 Sampai suatu hari saya berpikir, terlalu “kecil” kah saya untuk dihadapkan pada karang, meski hanya SATU saja?? Aaahh… Mungkin saya memang harus selalu berjalan di jalan penuh kerikil tajam ini, dan saya mencoba meyakini bahwa Tuhan saat ini pasti membuatkan saya sebuah sepatu bersol tebal untuk bekal saya melewati jalan penuh kerikil tajam itu… Pasti!! Lamat-lamat saya mendengar sebuah lagu indah mengalun….. 😉 “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik… Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNYA, bagi hambaNYA yang sabar dan tak kenal putus asa…” Semoga! 🙂

Tuhan, Ngobrol Yuk…

Judul sebuah buku yang dijual saat digelar bazaar di gerejaku dengan begitu saja mengundang perhatianku. Judulnya singkat, tapi kok unik banget ya? pikirku. Tuhan, Ngobrol Yuk… begitu judulnya. Lantas terbayang di benakku, apa ya kira-kira yang ingin disampaikan si penulis dengan memberi judul seperti itu? Nggak pakai pikir panjang, sebentar saja buku itu sudah pindah ke tanganku. Singkat cerita, begitu tiba di rumah, langsung kupereteli segel plastiknya. Halaman pertama.

Dari satu bab ke bab berikutnya ku’lalap’ hanya dalam beberapa menit. Wajar sih kalau aku membaca dengan cepat, habis satu bab hanya memakan tempat kurang lebih dua sampai dengan tiga lembar saja. Oke, sekarang aku mengerti maksud si penulis.

Pernah punya sahabat? Pasti senang sekali rasanya kalau kita punya sahabat yang kapan saja siap diajak ngobrol. Mulai dari hal sepele seperti gosip di kantor, sampai masalah keluarga yang cukup memusingkan. Seandainya tiba-tiba kita harus kehilangan sahabat yang bisa diajak ngobrol, sesedih apa ya kita? Duh, ya pasti sedih banget lah. Pasti kita langsung merasa sendirian dan amat sangat kesepian.

Kalau sekarang kita berandai-andai, seandainya Tuhan punya telepon, kira-kira Dia punya berapa line di telepon-Nya ya? Satu? Sepuluh? Seratus? Mana cukup??? Tahu nggak, dalam sedetik saja, berapa banyak manusia di bumi seperti kita-kita ini yang merengek minta tolong? Tuhan, tolong dong, aku lagi bertengkar dengan pacarku yang menyebalkan itu nih. Tuhan, tolong aku, uang jajanku nggak cukup untuk sampai akhir bulan dan aku nggak berani minta tambah sama Mama. Tuhan, bos-ku kok galak sekali ya? Aku salah apa sih, kok dia marah-marah terus sama aku? Wah… bisa ada seribu bahkan sejuta curhatan yang harus Tuhan dengar setiap detik. Kalau kamu jadi Tuhan, kebayang kan pusingnya? L

Duh, untungnya kita bisa cerita dengan Tuhan kapan aja. Nggak pakai ngantri, apalagi harus bolak-balik tekan tombol untuk menelepon karena nada yang sibuk terus-menerus. Kita bisa ajak Tuhan ngobrol kapan saja. Mulai dari cerita kaki kita terkilir, mobil mogok tanpa ‘aba-aba’, uang makan siang kurang untuk seporsi hidangan ala café, sampai masalah-masalah pelik yang kerap mampir dalam hidup kita. Tuhan nggak akan pernah bosan untuk ngobrol dengan kita, bahkan ketika Dia sedang sibuk menolong orang lain sekalipun!

Lalu, ketika Tuhan sedang ingin ngobrol dengan kita, kita selalu siap bagi Dia nggak? Padahal Tuhan cuma minta diajak ngobrol sebentaaarrr aja… Kita nggak perlu doa panjang-lebar untuk bisa ngobrol dengan Tuhan, dia juga nggak minta begitu kok. Tuhan hanya mau kita menyapa-Nya sebentar, untuk bercerita tentang apa yang kita rasakan saat ini, apa yang mengganggu pikiran kita belakangan ini, atau apa yang sedang kita inginkan. Dia hanya ingin mendengar celoteh dari mulut-mulut mungil kita.

Suatu hari, aku sedang bingung dengan kondisi memprihatinkan di kantorku. Aku bingung harus berbuat apa yang bisa mejadi sesuatu yang ‘berarti’ bagi perusahaan maupun bagi diriku sendiri, tapi nggak juga menemukan jawabannya. Tanpa sadar, mulutku menggumam, “Tuhan, aku bingung. Fungsiku di kantor ini apa sih sebenarnya? Aku mesti ngapain ya kalau begini keadaannya?” Sesederhana itu aku menggumam, sesederhana itu pula Tuhan mendengar dan menjawabku. Beberapa teman tiba-tiba saja menelepon ke ekstension-ku untuk menanyakan status mereka dan setengah merajuk mereka minta supaya aku mau menyampaikan apapun berita yang akan datang kepadaku tentang perusahaan ini, sekalipun itu kabar buruk untuk mereka. Tanpa pernah kusadari, masih ada orang-orang yang membutuhkan aku yang seolah ‘tak terlihat’ di perusahaan ini. Ternyata di luar sana, masih ada yang butuh ’peran kecil’-ku ini. Hanya dengan ngobrol singkat dengan Tuhan, aku menemukan jawaban yang nggak pernah kuduga. Tuhan, terima kasih yaa...

Aku jadi semakin mengerti maksud si penulis buku tentang judul bukunya yang ‘unik’ itu. Dengan judul bukunya yang unik itu, aku jadi semakin penasaran, apalagi yang unik dari hubungan antara manusia dengan Tuhan? Dalam hati aku berucap, thanks to the author.

Jika ngobrol dengan Tuhan bisa mengurangi sesak di dada, bisa sedikit melegakan hati, atau bahkan bisa mendapat jawaban dari pertanyaan yang selama ini hinggap di kepala kita, kenapa kita nggak buru-buru ajak Tuhan untuk ngobrol? Tuhan, ngobrol yuk…

[pondok gede|080707; bangun dari tidur siang]

Thesaurus of Broken Heart

Mungkin bukan hal baru jika kita mendengar seseorang sedang patah hati. Sahabat, keluarga, teman sepermainan, atau siapapun di sekitar kita, bahkan diri kita sendiri, pasti pernah mengalami patah hati. Bagaimana dengan orang yang belum pernah merasakan patah hati? Bisa saya pastikan, dia pasti salah satu dari orang-orang yang paling tidak beruntung di dunia!


Kenapa? Karena ketika kita sedang patah hati, begitu banyak reaksi kimiawi yang terjadi di dalam tubuh kita. Hingga akhirnya bisa menimbulkan simptom-simptom alamiah seperti mata yang tiba-tiba mengeluarkan air, nafas yang mendadak jadi sesak, kepala yang seketika terasa sakit, bahkan mungkin pada sebagian orang ada yang mengalami lemas pada tungkai kaki. Kalau bukan karena patah hati, kapan lagi kita bisa mengalami reaksi kimiawi sedahsyat itu terjadi secara bersamaan pada tubuh kita? Nah, makanya saya bilang, kalau tidak pernah patah hati, orang itu sangat tidak beruntung!

Saya pernah patah hati. Berkali-kali malah. Tidak bangga, tapi juga tidak merasa jadi rendah diri. Pertama kali saya patah hati adalah saat saya kelas 3 SMP. Saat itu amat menyakitkan bagi saya ketika tau bahwa laki-laki yang selama itu jadi ‘bunga tidur’ saya justru menjalin hubungan dengan perempuan lain, adik kelas saya, yang memang jauh lebih cantik dari saya. Duh, rasanya hati saya tiba-tiba retak seperti pecahan puzzle yang biasa dimainkan keponakan saya. Apaalagi ketika menyadari bahwa setelah si adik kelas tau bahwa saya pernah diam-diam menyimpan rasa pada pacarnya itu, tiba-tiba si adik kelas berubah menjadi perempuan yang amat sangat manja & mendayu-dayu pada si pacar setiap saat lewat di depan saya. Setiap saat! Murka gak sih rasanya?

Kali kedua saya patah hati adalah di masa SMU, yaitu ketika seorang laki-laki yang amat dekat dengan saya & telah berhasil mencomot (jika tidak mau dibilang mencuri) sebagian hati saya malah mengucapkan kata-kata yang sangat tidak ingin saya dengar saat itu. Kata orang-orang, ucapan itu biasanya hanya keluar dari mulut laki-laki buaya. Habis manis sepah dilepeh…eh, dibuang.. maksudnya. Wah… jadi, selama ini saya sudah dibuayain? Kemana aja saya selama itu, kok tidak pernah sadar sih? Saya lantas menangis berhari-hari, saya menyesali semua keadaan saat itu. Saya merasa minder, saya merasa kalah, bahkan saya tiba-tiba seperti menjadi terobsesi dengannya hingga dalam sehari saya bisa menghubungi dia sampai tiga atau empat kali, hanya untuk tau keberadaannya dan sedang bersama siapa dia saat itu. Yang lebih menyakitkan lagi, toh setelah itu dia tetap bersikap manis terhadap saya, seolah-olah dia tidak pernah membuat saya menangis sebelumnya. Aarrgghh….!!!

Lain lagi ketika saya patah hati untuk ketiga kalinya. Setelah 7 (tujuh) tahun berpacaran (bayangkan, tujuh tahun!), tiba-tiba pacar yang sejak awal terlihat begitu sempurna dan setia di mata saya, punya WIL alias ‘wanita idaman lain’. Parahnya lagi, saya ‘menangkap basah’ mereka sedang nge-date di suatu sore di hari Minggu, setelah selama seharian itu saya berusaha menghubungi handphonenya tidak berhasil, datang ke rumahnya tapi dia tidak pulang sejak semalam, dan dia seperti menghilang tanpa jejak! Saya bertemu muka secara tidak sengaja dengan ‘pasangan’ itu ketika mobil yang biasa dikendarai pacar saya melintasi sebuah mall di bilangan Bekasi. Luluh lantak rasanya hati saya saat itu, seperti disambar geledek (padahal saya sendiri tidak tau seperti apa rasanya disambar geledek!). Tapi yang pasti, harga diri saya bagai diinjak-injak saat itu juga. Saya merasa menjadi loser!

Itu tadi baru tiga besar cerita patah hati saya, belum yang lain-lain lagi, seperti cerita-cerita patah hati saya yang bekasnya hanya bertahan sebentar saja… Lebih banyak lagi tentunya! Tapi, baik rasa sakit yang biasa-biasa saja maupun yang rasa sakitnya mendalam, dan baik yang bertahan di hati hanya sebentar maupun membekas lama, ya rasanya sama saja, dahsyat…!!

Lantas apa yang mesti kita lakukan untuk mengobati rasa yang timbul sebagai efek samping dari “patah hati”, yang katanya, rasanya ‘sakiiittt…sekali’ itu?? Mungkin akan banyak sekali teori-teori yang muncul berlandaskan asas psikologis, kedokteran, kerohanian, dan lain-lain, dan sebagainya.. Kalau kita punya banyak waktu, boleh saja kita coba satu per satu langkah-langkah menyembuhkan patah hati yang diungkapkan oleh teori-teori tersebut. Tapi bagi saya, cuma satu jalan keluar untuk ‘sembuh’ dari rasa sakit yang ditimbulkan akibat ‘patah hati’ tersebut. Legowo! Udah, cuma itu saja kok, LEGOWO… Karena dengan “legowo”, kita akan lebih mudah untuk ‘sembuh’, lebih cepat ‘bangkit’, lebih kuat untuk ‘pulih’… dan lebih tangguh utnuk menapaki kisah cinta baru, yang tentunya akan punya ‘gaya’ sendiri untuk menghasilkan ending yang sama, ya patah hati itu tadi…

Sekarang atau nanti, semua kisah cinta pasti akan berakhir dengan PATAH HATI, entah patah hati karena ulah manusia-nya sendiri, ataupun karena ulah Sang Pencipta yang lebih ‘mencintai’ makhluk ciptaanNya sehingga lebih dulu memanggil salah satu dari dua manusia yang berpasangan itu. Lantas, apa perbedaan antara “orang yang sampai saat ini sudah pernah patah hati” dengan “orang yang sampai saat ini belum pernah patah hati”? Bedanya, ibarat seorang pelari cepat, orang yang sampai saat ini sudah pernah patah hati adalah JAUH lebih beruntung; karena mereka sudah lebih awal sampai di “titik kulminasi”, sementara yang lain baru saja mulai menjejak langkah pertama… untuk mencapai titik yang sama..!!!

Cepat atau lambat kita sampai di “titik kulminasi”, tergantung pada ‘lintasan’ yang kita lalui dan kekuatan kita ‘berlari’ pada lintasan tersebut. Jadi… siap-siap aja, PATAH HATI sudah di depan mata… 😉 

“Ancol Bay”

Ancol Bay…!!Ya ampuunnn… udh lama banget gak ke tempat yg satu ini.. Terakhir ke sana klo gak salah waktu jamannya kuliah deh (waktu msh muda, hehehe..)

Awalnya cuma iseng aja sih. Sabtu pagi dpt undangan ultah anak-nya seorang sahabat lama di Rawamangun. Mo tau jam berapa undangannya? Jam 10 pagi!! Hiks.. 😥 Itu kan Sabtu??… waktunya utk lbh lama ‘bergulat mesra’ dgn bantal & guling… 😦 Klo bukan “sahabat”, males banget gak seehhh..??

Alhasil, krn udh keburu recharge ‘nyawa’ dari pagi & utk pulang buru2 dan melanjutkan tidur udh gak mungkin, jadilah otak yang emang udh liar dr sananya ini, “bermanuver” ria nyari2 destinasi lanjutan yg bisa ‘recovery’ penat hasil kumpulan selama hari2 kerja kemaren…

Gara2 minggu lalu sempet dpt rekomendasi ttg satu resto ‘cantik’ di Ancol Bay, jadilah pilihan jatuh pd Ancol Bay (yang saat kepikiran ide itu, sama sekali gak kebayang, Ancol udh kayak gimana ya sekarang?)

Awalnya mo naek busway aja, tapi si Kang Mas lagi agak2 males ber-umpel2an ria bersama penumpang lain (emang sih, klo Sabtu, busway jurusan Ancol pasti penuh..nuh..be’eng..). So, naxi deh (kata kerja dari ‘naek taxi’, he3x). Swiiinnnggg… bablas tol, keluar2 udh di pintu timurnya Ancol.. Hhmm.. it takes ‘bout a half hour, cepet juga ya..

Tiket masuk Ancol klo pake taxi jadi lebih hemat lho ternyata! Krn cuma dihitung jumlah passenger-nya aja, sementara supir & taxi-nya gak diitung (norak ya, hari gini baru tau.. hi3x). HTM Ancol per pax Rp.12,000.- So, we’re both cost Rp.24,000.- only!

Jreng.. Jreng… Liat kanan, liat kiri, liat depan, liat belakang… Di mana ya lokasinya? Waduh, susah juga jd org Jakarta yg ‘bego’ gini ya? Mo nanya, tengsin. Gak nanya, ngeri mabal. Masa’ org Jakarta nyasar di Jakarta, hahahahaha… 😀 Akhirnya, kami putuskan utk turun aja dr taxi di depan A&W restaurant, dan menulusuri jalan sepanjang pantai sambil jalan kaki! Dalihnya sih, biar mesra, jalan kaki sepanjang pantai.. Padahal mah, klo naek taxi trus mabal, kan ketauan pas tuh taxi muter2, nah.. klo jalan kaki kan mabal juga gak ada yg tau, paling dianggapnya muter2 krn menikmati panorama, wakakakak…. :))

Selama jalan2 ‘melipir’ itu (sempet jalan2 pake perahu motor, pula!), baru ngeh’, ternyata msh ada bbrp spot di Ancol Bay ini yg masih ‘cukup’ cantik utk diabadikan lho… Yg penting mah, pinter2 nyari ‘angle’ aja… 

Awalnya sih kami ke sini mo dinner di “Segarra” yg lagi happening banget itu. Tapi kok hati kepincut sama Le Bridge ya? Finally, jadilah kami mengarahkan kaki ke café mungil yg letaknya ‘amazing’ itu, di tengah laut lho.. Yah, walopun ga terlalu ke tengah, tapi lumayanlah, berasa dinner di atas kapal yg lagi pesiar… Ceileh, jayusnya kumat deh… He3x.

Di Le Bridge, kami smpt bingung mau order apa. Akhirnya, kami coba utk mengandalkan insting.. :p Jadilah kami order bbrp food & beverage yg kalo ditinjau dr namanya sih kayaknya enak, tapi aman (gak spekulasi dgn jenis & rasa, he3x)… 10 minutes afterward, the orders are coming. Ada Spaghetti Bolognaise, ada Meatloaf Bolognaise Sandwich, ada moktail Punch Lychee, dan Strawberry Smoothies, and it’s cost Rp.107,800. Hhmmm… nyam.. nyam… Time for dinner! 😀 Yummy!!

Sambil makan, kita sempet2in dong foto2… Emang dasar banci kamera, gak boleh ngeliat spot cantik dikit, bawa’annya ngeceng dpn lensa! Pose, Lighting, and… Click! Hoorayyyyy…..!!! Saking keasikan foto2, kami smp gak sadar klo makanan di piring udah abis dr tadi. Wah, gak bisa begini nih, masa mulut dibiarin mingkem gini? :p Finally, we’re asking for more, and the order come in 10 min later. 1 plat of French Fries, 1 Ice Tea, and 1 Heineken. Hahaha… :))

Tapi yg paling excited dari ‘having dinner’ di Le Bridge ini bukan makanan ato minumannya, tapi “sunset on bridge” nya… Duh, cantik banget… Sumpah!! Sayang, kami cuma sempet dpt moment itu sekali ‘jepret’ doang, udh gitu dptnya goyang lagi, hhh… :(( Abis itu, matahari-nya udh ‘ngumpet’ beneran.. 😥 Hopefully there’ll be next time..

Berhubung kami berniat (bulat!) utk pulang naek busway, jadilah pas jam 07.30PM kami berkemas2 (emang bw apaan pake berkemas segala? hi3x) utk check out dr Le Bridge. Pas lagi on the way out of the café, sempet2nya kita foto2 lg di pantai (duh, norak banget deh pokoknya) Eh, apaan tuh gumbreng2…?? Ooo… ternyata ada live music. Wah… kok tempatnya lucu tuh kayaknya… 😉 Namanya “Backstage”. Outdoor café dgn live music on stage, didekor dgn cantik ala beach resto yg full dgn lampu2 kecil yang kelap-kelip di batang2 pohon palem (ato tiang buatan ya?) di table area.. Wah, cantiknyaaa… :))

Udah sempet kekeuh utk segera pulang, eh… si Kang Mas malah nawarin “Lanjut lagi, apa?” Waaaaaaa……… siapa yang bisa nolak dgn ‘pemandangan’ cantik itu!?! Singkat cerita, kami udh duduk manis di slh satu table di bagian depan, dkt dgn stage with 1 plat of Fish Lemon Grass (menu yg ini lucu lho, berbentuk spt drum stick yg terbuat dr daging ikan giling, ditusuk bukan dgn lidi dsb, tapi dgn batang sereh!), 1 Hot Chocolate, 1 Cappuccino, and 1 cup of Creamy Di Caprio (namanya keren ya? Padahal, it’s just a cup of corn soup, he3x). It’s all worth for Rp.133,980.

Even the home-band was in standard performance, more than that, suasana yg ditawarin di sini… mantabb…!! Cool!! Another recommended place for hang-out or partying… Kami pikir, boleh juga nih kpn2 ajak temen2 hang-out di sini, drpd bosen hang-out di tengah kota melulu, dgn café indoor yang dikelilingin tembok doang, ato outdoor café tapi view-nya cuma jalanan yg penuh dgn mobil2 ‘gaul’ hasil keringet babe yg dibawa sama a-be-ge2 cowok sok ganteng dgn pacar2nya yg pecicilan dgn baju2 serba minim-nya… Cape’ deee… 😦

Finally, I’m shocked when seeing my watch! It’s ten fifteen!! Aarrgghh….. time to go home! Gini2, biar udah tua juga, udah gede, udah kerja, udah pny duit ndiri, tetep aja….. punya jam malem! Biasanya, klo smp rumah lewat dr jam 11.30 malem, utk bs masuk rumah tuh panjang bngt prosedurnya. Mulai dr nelpon dulu dari luar pagar yg udh digembok, ditanya2in dulu di telpon, dimakanin nyamuk krn kelamaan nangkring di luar gara2 nunggu pagar dibuka (yg emang sengaja dilama2in ngebukanya), smp dgn denger “nyanyian” yg panjang pas udah di dlm rumah..! Waaaaa….. ribet dah pokoknya! Bikin males.. 😦 So, gak pake pikir panjang, buru2 aja ngajak si Kang Mas pulang (untung dia udh ngerti ‘banget’ soal yg satu ini, dan gak mau ambil resiko juga, he3x).

After paying the bill, we’re fast moving to get out from the café, and looking around for a cab. Lucky us! There’s a “good” cab dropping off another passenger. So, it becomes our lucky tonight.

Finally, we’re home at 11.15PM. Fyuhh..! Hampir semua org rumah dah ‘tidur2 ayam’, kecuali si ‘mbak’ yg bukain pintu. Jd gak banyak pertanyaan, amaannn… :p Tinggal bersih2, trus molor deeehhh… 😉 Hehehe… :p

Btw, gak nyangka lho, ternyata Ancol sekarang tuh udah better dr yg dulu ya. Dulu tuh kan Ancol cuma jadi “gunjingan” tempat jin buang anak lah, tempat pacaran mesum lah… ternyata, mungkin manajemen Ancol ‘gerah’ juga kali ya tempatnya digunjingin mulu, akhirnya di”percantik” sana sini deh, dgn hadirnya café & resto yang cantik2 itu… 😉 Boljug…!! Jadi gak sabar utk ‘jelajahin’ Ancol lagi next time. Mungkin kalo destinasi berikutnya Segarra, lucu juga kali yeee… Segarra, I’m comiiinngg…….!! :))

Hiking Tips untuk Pemula

Hiking atau mendaki gunung adalah olahraga luar ruangan yang sangat menyenangkan. Olahraga ini sangat mudah bagi pemula dan tidak hanya menawarkan suatu bentuk aktivitas fisik yang menantang, tetapi juga termasuk menikmati keindahan panorama alam bebas & aktivitas luar ruang yang menyenangkan. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memulai aktivitas “hiking”, dan beberapa standar prosedur keselamatan yang harus diperhatikan dengan seksama.

 

Yang pertama ialah, sebaiknya tidak mendaki seorang diri. Untuk alasan keselamatan, sebaiknya anda mendaki bersama satu teman atau lebih, jika memang tidak tergabung dalam sebuah tim pendakian, serta selalu pastikan bahwa ada seseorang di rumah yang tahu ke mana anda & rekan anda pergi melakukan pendakian dan tahu kapan kira-kira anda seharusnya kembali pulang dari pendakian ini. Ini akan memudahkan mereka mencari jika saja anda hilang dalam pendakian.

 

Jika anda berencana untuk melakukan pendakian dalam jangka waktu lebih lama dan lebih beresiko tinggi, alangkah baiknya jika anda menghubungi pendaki berpengalaman yang terbiasa melakukan pendakian di daerah tersebut atau warga setempat yang pastinya sangat paham akan medan pendakian. Hal ini berguna untuk mengetahui kondisi alam di sekitar medan pendakian & rute pendakian terbaik.

 

Jika anda dan rekan yang ikut mendaki bersama anda adalah ‘baru’ dalam hal pendakian, yang terbaik untuk anda lakukan adalah memulai pendakian dengan sebuah perjalanan yang singkat dan mudah. Sebaliknya, jika anda dan rekan merupakan pendaki berpengalaman, anda boleh mencoba perjalanan pendakian yang lebih panjang dengan tingkat kesulitan lebih tinggi.

 

Yang perlu diingat adalah, sebelum memulai perjalanan carilah informasi sebanyak dan selengkap mungkin tentang lokasi pendakian yang akan anda kunjungi. Merupakan hal terbaik jika anda mengerti tentang segala sesuatunya sejak awal. Pastikan juga anda mengetahui, apakah anda akan mendaki perbukitan, gunung dengan rimba belantara, gunung dengan banyak lintasan sungai, atau gunung berbatu. Pilihlah medan pendakian yang sesuai dengan kemampuan fisik dan kondisi stamina anda. Jangan malu ataupun sungkan untuk memulai perjalanan pendakian anda dari sebuah perjalanan kecil yang mudah dan sederhana, anda akan selalu mendapatkan kesempatan untuk mendaki medan yang lebih menantang di lain waktu, setelah anda memiliki banyak pengalaman. Sebab, lebih baik jika anda berada pada medan pendakian yang ‘terlalu mudah’ bagi anda, daripada berada pada medan yang ‘terlalu sulit’ bagi anda.

 

Perlengkapan yang baik dan  memadai merupakan hal yang krusial bagi sebuah perjalanan pendakian. Pertama, pastikan anda menggunakan pakaian yang nyaman dikenakan, ringan, dan menyerap keringat terutama jika udara panas. Jika anda berniat untuk menggunakan berlapis-lapis pakaian karena udara yang dingin, pastikan lapisan pakaian-pakaian tersebut mudah dilepas jika sewaktu-waktu udara menjadi panas, dan mudah untuk dikemas kembali. Menggunakan sepatu yang baik dan tepat juga merupakan hal yang paling penting dalam perjalanan pendakian. Jika anda akan melakukan rute pendakian yang panjang dan berat, sepatu berupa boot khusus untuk mendaki yang berkualitas baik merupakan benefit tersendiri bagi kaki anda. Namun bagi pendaki pemula dengan medan pendakian yang lebih ringan, sebuah sneakers bisa menjadi pilihan. Namun boot khusus untuk mendaki atau yang biasa dikenal dengan “ankle boots” memiliki nilai lebih, yaitu dapat menopang pergelangan dan ‘mata’ kaki anda dengan baik selama pendakian. Jangan coba-coba untuk memulai pendakian dengan sepatu yang tidak tepat, apapun kondisi medan pendakian anda, baik itu tanah licin maupun berbatu.

 

Persiapan kelengkapan pendakian adalah hal yang harus anda perhatikan dengan sungguh-sungguh sebelum anda memulai pendakian. Salah satu hal yang mendasar adalah, bawalah air sebanyak mungkin. Jangan sampai anda mengalami dehidrasi saat anda berada dalam perjalanan. Ada baiknya anda juga membawa beberapa penganan kecil yang cukup mengenyangkan dalam ransel anda untuk menunjang perbekalan anda selama perjalanan. Hal lain yang bisa anda tambahkan sebagai kelengkapan pendakian adalah kotak P3K Praktis, peta lokasi, pisau lipat serbaguna, dan kompas. Telepon genggam juga hal penting lainnya yang umum digunakan oleh pendaki di era modern belakangan ini.

 

Bagi pemula, alangkah baiknya anda memulai rute pendakian pada lokasi dilindungi yang telah dikelola oleh pemerintah daerah setempat, misalnya lokasi pendakian yang terdapat di wilayah Taman Nasional. Ini untuk menghindari anda tersesat di lokasi pendakian yang memiliki sudut-sudut lokasi yang sulit dilacak. Jika anda ingin mencoba rute pendakian yang lebih menantang, anda bisa bergabung dalam tim pendakian yang sudah berpengalaman dan bersertifikasi.

 

Jangan pernah mengambil resiko dalam pendakian dengan membawa perlengkapan seadanya saja, dan jangan pernah pergi mendaki sendirian. Dalam hal persiapan, jauh lebih baik jika anda “terlalu lengkap” daripada “terlalu standar”. Mulailah pendakian anda dari medan yang paling mudah, dan berangsur-angsur meningkat ke medan yang lebih sulit, seiring dengan perkembangan kondisi fisik, stamina, dan pengalaman anda. Mendaki gunung adalah hal yang sangat menyenangkan, jadi pergilah ke ‘luar sana’, nikmati diri anda saat berada di ‘luar sana’, tapi ingat, utamakan keselamatan anda. Selamat mendaki! Salam rimba! 

Goodbye My Lover

by: James Blunt

 

Did I disappoint you or let you down?

Should I be feeling guilty or let the judges frown?

‘Cause I saw the end before we’d begun,

Yes I saw you were blinded and I knew I had won.

So I took what’s mine by eternal right.

Took your soul out into the night.

It may be over but it won’t stop there,

I am here for you if you’d only care.

You touched my heart you touched my soul.

You changed my life and all my goals.

And love is blind and that I knew when,

My heart was blinded by you.

I’ve kissed your lips and held your head.

Shared your dreams and shared your bed.

I know you well, I know your smell.

I’ve been addicted to you.

 

Goodbye my lover.

Goodbye my friend.

You have been the one.

You have been the one for me.

 

I am a dreamer but when I wake,

You can’t break my spirit – it’s my dreams you take.

And as you move on, remember me,

Remember us and all we used to be

I’ve seen you cry, I’ve seen you smile.

I’ve watched you sleeping for a while.

I’d be the father of your child.

I’d spend a lifetime with you.

I know your fears and you know mine.

We’ve had our doubts but now we’re fine,

And I love you, I swear that’s true.

I cannot live without you.

 

Goodbye my lover.

Goodbye my friend.

You have been the one.

You have been the one for me.

 

And I still hold your hand in mine.

In mine when I’m asleep.

And I will bear my soul in time,

When I’m kneeling at your feet.

 

Goodbye my lover.

Goodbye my friend.

You have been the one.

You have been the one for me.

I’m so hollow, baby, I’m so hollow.

I’m so, I’m so, I’m so hollow.

 

don’t …

Don’t give me a rose,

If u try to gives me with its thorn…

 

Don’t give me honey,

If u try to gives me with its bee…

 

Don’t give me rain,

If u try to gives me with its thunder…

 

Don’t give me dream,

If u try to gives me nightmare…

 

Don’t give me promises,

If u doesn’t even know, what is promise…